Prajurit Penjaga Perdamaian Indonesia Gugur Akibat Serangan Tank Israel di Lebanon

This undated photo shows Indonesian military personnel joining the UNIFIL. (B1 File Photo/Courtesy of Indonesian Armed Forces)
Jakarta, Global Investor Indonesia – Pemerintah mengumumkan pada hari Jumat bahwa seorang prajurit penjaga perdamaian asal Indonesia telah gugur akibat luka parah yang dideritanya dalam ledakan yang melibatkan pasukan Israel di Lebanon selatan.
Prajurit Pasukan Perdamaian PBB (Pasukan Helm Biru) tersebut adalah Prajurit Kepala Rico Pramudia. Gugurnya Rico menambah daftar panjang kehilangan bagi Indonesia, yang kini telah kehilangan empat prajurit penjaga perdamaiannya sejak dimulainya eskalasi konflik terbaru antara Israel dan kelompok militan Lebanon, Hizbullah.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa Rico mengalami luka parah akibat "ledakan artileri dari tank Israel" di dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret lalu. Rico, yang bertugas di bawah naungan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), telah menjalani perawatan medis intensif sejak insiden tersebut terjadi.
“Mengingat tingkat keparahan lukanya, Rico menghembuskan napas terakhirnya meskipun segala upaya medis telah dikerahkan untuk menyelamatkan nyawanya. Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri.
Saat ini, pemerintah Indonesia tengah berkoordinasi secara intensif dengan pihak UNIFIL untuk memastikan proses pemulangan jenazah dapat dilakukan secara cepat dan dengan penghormatan penuh.
“Indonesia kembali mengecam keras serangan Israel yang telah mengakibatkan gugurnya prajurit penjaga perdamaian Indonesia,” tegas pernyataan tersebut.
“Setiap serangan yang ditujukan kepada pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.”
Pemerintah Indonesia juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menggelar penyelidikan yang transparan dan menyeluruh atas serangan mematikan tersebut.
Insiden pada tanggal 29 Maret lalu mencatatkan korban jiwa pertama dari pihak Indonesia dalam bentrokan Israel-Hizbullah. Kopral Farizal Romadhon (27) gugur di tempat kejadian. Selain itu, dua personel UNIFIL asal Indonesia lainnya, yakni Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan, turut gugur saat sebuah ledakan menghancurkan kendaraan konvoi mereka. Temuan awal PBB mengindikasikan bahwa insiden pada 30 Maret tersebut disebabkan oleh alat peledak rakitan (IED) yang "kemungkinan besar ditempatkan oleh kelompok Hizbullah".
Kepala Pasukan Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas kejadian yang menimpa Rico. Ia mengenang almarhum sebagai sosok "prajurit penjaga perdamaian UNIFIL yang penuh keberanian".
“Belasungkawa terdalam saya sampaikan kepada keluarga, sahabat, serta Tentara Nasional Indonesia dan pemerintah,” ujar Lacroix.
Tercatat hingga 30 Maret, Indonesia merupakan negara penyumbang pasukan terbesar untuk misi UNIFIL dengan total 755 personel Pasukan Helm Biru yang tengah bertugas di lapangan.