Jalan Damai AS-Iran Kembali Mencuat, Harga Minyak Longsor ke Level US$94

Jakarta – Harga minyak dunia kembali bergerak turun pada perdagangan Rabu pagi. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya harapan pasar terhadap terbukanya kembali jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Tren Penurunan Setelah Puncak Gejolak
Fokus utama pelaku pasar saat ini masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia. Sebelumnya, kekhawatiran akan gangguan di kawasan ini sempat membuat harga melonjak drastis hingga melampaui US$109 per barel pada 7 April lalu. Saat itu, Brent sempat menyentuh angka US$109,27, sementara WTI menembus US$112,95.

Source: Refinitiv Get the data Created with Datawrapper
Namun, reli harga tersebut perlahan mulai memudar. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, pasar menunjukkan tanda-tanda pendinginan:
Brent: Turun sekitar 13,4% dari titik puncaknya.
WTI: Terkoreksi hampir 19,7%.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa pasar mulai meyakini bahwa gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah tidak akan berlangsung secara permanen.
Sinyal Diplomasi di Islamabad
Sentimen positif datang dari kabar mengenai tim negosiasi AS dan Iran yang berpeluang kembali bertemu di Islamabad pekan ini. Komunikasi antar kedua belah pihak dilaporkan masih berjalan, di mana Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa upaya mediasi terus dilakukan secara intensif untuk meredam ketegangan.
Risiko Pasokan dan Proyeksi Ekonomi
Meski harga melandai, risiko pasar belum sepenuhnya hilang. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan penutupan efektif Selat Hormuz sempat memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Pada Maret lalu, sekitar 10,1 juta barel per hari pasokan dilaporkan hilang dari pasar global.
Selain itu, IEA juga melakukan penyesuaian terhadap proyeksi pasar untuk tahun 2026:
Pertumbuhan Permintaan: Dipangkas sebesar 80 ribu barel per hari.
Pasokan Global: Diperkirakan turun hingga 1,5 juta barel per hari.
Data ini memberikan sinyal waspada bagi ekonomi dunia yang berpotensi melambat apabila krisis energi di kawasan tersebut terus berkepanjangan.