Ekonomi Global

Harga Perak Kembali Menguat, Didorong Sentimen Geopolitik dan Data Makroekonomi AS

Admin 22 April 2026 2 menit baca 20 views

Jakarta, Global Investor Indonesia - Harga perak kembali bergairah pada perdagangan akhir pekan, setelah sempat terkoreksi akibat investor yang tampaknya mengambil rehat sejenak pasca lonjakan harga beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data pasar, harga perak pada penutupan perdagangan akhir pekan melonjak 2,63% dari perdagangan sehari sebelumnya. Namun secara keseluruhan sepanjang pekan tersebut, harga perak masih mencatatkan penurunan sebesar 10,11% secara point-to-point (ptp).

Pergerakan harga perak cenderung mengikuti emas yang kembali bangkit. Meski demikian, pergerakannya sempat tertahan oleh berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi. Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang masih cukup kuat turut memberikan pengaruh terhadap harga perak.

Lonjakan harga minyak global akibat eskalasi yang meningkat di Timur Tengah telah meredam prospek penurunan suku bunga. Pasar memperkirakan pelonggaran kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) hanya berkisar 40 basis poin.

Para pembuat kebijakan The Fed diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam pertemuan mereka mendatang, dengan pemotongan pertama baru diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun.

Di sisi lain, Laporan Challenger Job Cuts menunjukkan perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 48.307 pemutusan hubungan kerja (PHK), turun tajam 55% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 108.435 PHK.

Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran (Initial Jobless Claims) tercatat sebanyak 213 ribu. Angka ini sama dengan periode sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan pasar yang berada di level 215 ribu.

Produktivitas tenaga kerja nonpertanian (Nonfarm Productivity) tercatat naik 2,8%, melambat dari periode sebelumnya 5,2%. Pada saat yang sama, biaya tenaga kerja per unit (Unit Labor Cost) meningkat 2,8%, berbalik dari penurunan -1,8% pada kuartal sebelumnya.

Tai Wong, seorang pedagang logam independen, menilai bahwa laporan penggajian yang sangat lemah, yang menunjukkan kehilangan pekerjaan besar-besaran di sektor swasta bersamaan dengan kenaikan upah, mengisyaratkan terjadinya stagflasi.

Kendati sempat melemah, sama halnya dengan emas, perak memiliki potensi reli yang didorong oleh ketegangan geopolitik. Gelombang besar serangan Israel ke Teheran baru-baru ini, yang menargetkan infrastruktur milik otoritas Iran pasca serangan rudal yang membuat jutaan warga Israel menuju bunker perlindungan, terus menjadi sentimen penggerak bagi aset ini.